Hal-hal Yang Tak Sempat Dibicarakan

Sudah lebih dari sepekan aku libur. Seperti liburanku yang lain—setelah aku pindah ke kampusku yang sekarang. Aku tak menikmatinya. Sama sekali. Di saat rekan-rekanku memamerkan foto-foto liburan mereka ke wahana wisata atau sejenisnya, aku justru memilih untuk tak melakukan apa-apa. Tidak benar-benar tak melakukan apa-apa, memang. Karena aku masih sempat untuk tidur lebih dari dua-belas jam sehari. Makan. Atau sekadar membantu ibuku mengupas bawang putih atau wortel di siang hari. Aktivitasku tak pernah jauh dari kasur. Dan akhirnya aku berniat untuk merayakan masih-hidupnya aku dengan mengunjungi rumah beberapa kawan. Berdiskusi tentang hal-hal yang kulewatkan selama aku di perantauan. Atau sekadar menikmati kopi di angkringan favorit kebanyakan pemuda garda samping sepertiku.

***

Aku lupa kapan, tapi seingatku masih liburan.

Aku baru bangun tidur saat aku mendapati ada puluhan notifikasi di ponselku. Notifikasi atas pesan-pesan teks di aplikasi WhatsApp yang masuk dalam rentang sepuluh atau sebelas jam semenjak aku tertidur pulas. Beberapa dari grup-grup yang aku enggan untuk keluar dari grup-grup tersebut, mengingat itu demi kepentinganku di kampus. Tak ada pesan teks dari kawan baikku tapi ada dua atau tiga pesan belum terbaca dari seorang perempuan yang dulu sempat, dan masih, kuusahakan kebahagiaan untuknya.

“Oktober kamu ada libur gak?”

Ada apa ini. Aku bertanya-tanya sekian detik sebelum akhirnya kujawab, gak tau.

Ada apa? Lanjutku.

Ia tak kunjung membalas pesan teksku. Mungkin ia akan membalas pesan teksku satu atau dua jam yang akan datang, begitu pikirku. Aku melanjutkan berbaring di kasurku dan menatap langit-langit kamarku yang bercat putih.

Dua menit. Delapan menit. Dua belas menit berlalu.

Entahlah. Aku tak pandai menghitung waktu dengan begitu presisi. Tak ada pesan teks balasan dari perempuan tersebut. Aku sebenarnya tak begitu berharap mendapatkan teks balasan darinya. Hanya saja, aku begitu penasaran dengan kemunculannya yang serba tiba-tiba sebulan terakhir ini. Pertama, saat pekan terakhir bulan ramadan, aku lupa tepatnya kapan, ia mengirimiku pesan teks menanyakan kabar dan berbincang sangat lama―hanya jika satu jam non stop itu dianggap lama. Kemudian, hari ini yang terakhir, ia menanyakan kekosongan jadwalku di bulan Oktober. Yang kutahu, ia berulang tahun di bulan Oktober. Tapi tak mungkin ia akan mengundangku ke acara ulangtahunnya, mengingat aku bukan lagi seseorang yang penting baginya. Terlebih lagi tahun ini merupakan tahun ketiga setelah kami berhenti berkomunikasi.

Jadi, aku simpulkan ia sedang tak ada kerjaan dan iseng melakukannya. Karena mengingat ia baru saja lulus kuliah.  Dasar pengangguran!

***

Orangtuaku, khususnya ibuku adalah orang yang tak begitu menyukai seorang pemalas sepertiku. Dulu sebelum aku kuliah di tempatku sekarang, ibuku akan marah jika aku tak melakukan apapun seperti yang kulakukan setiap kali liburan tiba, seperti saat ini. Mungkin itu semacam trade-off yang dilakukan ibuku. Ibuku memilih aku bermalas-malasan dan hidup seperti mayat ketimbang aku cabut dari tempat kuliahku saat ini. Menyenangkan. Tapi aku belum mengonfirmasi hal ini kepada ibuku. Selain karena tak sebegitu penting bagiku, juga karena aku menikmatinya.

Masokis, begitu kata seorang kawanku saat kukatakan aku tak sebegitu senang berkuliah di tempat ini.

Liburan kali ini  dan liburan lain yang telah lewat, aku juga tak pernah diberikan beban pekerjaan apapun. Pekerjaanku di rumah hanya merapikan tempat tidurku, melipat selimut, mandi dua kali sehari, dan makan yang banyak. Jarang-jarang mendapatkan kemewahan seperti ini, mengingat dulu aku harus bangun pagi-pagi sekali untuk segera mandi dan bersiap berangkat ke terminal bus dekat rumah dengan berjalan kaki. Mungkin perjalanan kecil menuju terminal bus tersebut membutuhkan kira-kira lima belas menit. Aku harus sampai di terminal bus saat bus paling pagi arah Solo datang, sehingga aku tak perlu membolos satu sesi pelajaran di sekolah.

Masa-masa yang begitu panjang untuk diceritakan.

Aku terkadang melakukan hal-hal yang sama setelah bertahun aku lulus dari sekolahku. Bagiku, ketika aku melakukan hal tersebut, aku seperti sedang mengunjungi ingatan-ingatan yang berserakan di sepanjang jalan yang pernah kulewati selama dua setengah tahun lebih. Merasakan dingin yang sama dan mengingat kembali bagaimana di suatu subuh tiba-tiba aku menangis, menangis di sepanjang jalan karena satu hal yang hanya kuceritakan pada kawan dekatku. Jalan-jalan yang pernah kulewati tersebut mengajariku bagaimana tetap menolak berlutut sekalipun dunia memintamu untuk itu. Aku menerima hidup sebagaimana adanya saat momen-momen tersebut. Jalan-jalan yang mendewasakanku tak pernah berubah. Ia masih sama seperti dulu. Angkuh. Jika kau sempat, tanyakan padanya berapa kali aku menangis di atasnya.

I’d rather die on my feet than live on my knees.

***

“Nu, nih baca,” seru seorang kawanku saat aku mengunjungi kedai kopi miliknya.

Aku mengernyitkan dahiku. Tak yakin dengan apa yang kubaca, lalu kualihkan pandanganku ke arah kawanku tersebut.

Ia tertawa. Kemudian menerima ponselnya yang kuulurkan padanya.

Aku masih tak percaya dengan apa yang kubaca. Seorang teman lama. Tak begitu akrab dan aku tak pernah menceritakan apapun perihal hidupku padanya. Tapi lewat pesan teks yang ia kirimkan kepada kawanku tersebut, ia seakan tahu banyak hal soal hidupku. Ia mengatakan bahwa aku adalah seorang yang tak pandai bersyukur, tak bisa bekerja keras, manja, sinis, angkuh, dan beberapa hal lain yang sudah kulupa detilnya. Aku ingin tertawa tapi tak tahu bagian mana yang harus kutertawakan.

“Kenapa dia gitu, ya?” ujar kawanku sembari mengulurkan kopi pesananku, “Setahuku kamu gak kaya gitu deh. Ngobrol yuk, di belakang aja tapi” lanjut kawanku.

Aku mengekor kawanku menuju tempat belakang yang tampaknya menjadi tempat favoritnya. Dan aku harus senang karena masih dianggap sebagai seseorang yang penting baginya. Paling tidak aku tak kehilangan banyak kawan di kota ini.

Jika kuperhatikan baik-baik kawanku ini telah banyak berubah. Ia lebih cantik dibandingkan ia dua tahun yang lalu. Kini ia pandai merias diri dan semakin stylish. Gincu di bibirnya lah yang membuat semuanya menjadi sebegini menyenangkan. Terima kasih globalisasi dan internet!

Aku memujinya habis-habisan setelah kami duduk di sofa di tempat belakang yang ia maksud. Aku hanya berharap aku dapat kopi gratis hari ini atau hal menyenangkan lainnya. Aku tak akan menolak jika itu terjadi.

“Gak usah dipikirin chat yang tadi, aku gak percaya kok.” Ujar kawanku memecah keheningan sesaat setelah puja-pujiku untuknya habis.

Aku terkekeh, aku gak mikirin itu aku mikirin yang lain dan aku tahu kalau kamu gak percaya soal itu. Jelasku, berharap ia tak lagi membahas hal itu lagi.

Ia tersenyum. Ia begitu cantik. Aku tak bohong.

Que Sera, Sera.

***

Ada hal yang perlu disyukuri dan terus dihidupi, dan ada hal lain yang sebaiknya memang hanya perlu ditengok sesekali.

Aku memang tak begitu bahagia di sini, tapi jika ketidak-bahagia-anku ini membuat orangtuaku kembali memiliki sinar harapan di kedua mata mereka―sesuatu hal yang tak lagi kulihat semenjak delapan tahun yang lalu―aku akan dengan senang hati menerimanya. Menerima segala ketidak-bahagia-anku ini dan mungkin akan menghidupinya sebaik-baiknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s