Perihal Pernikahan: Angkringan Pasar Sunggingan, 30 Juni 2016

28 Juni 2016

Sebuah pesan teks whatsapp masuk. Dari seseorang yang seringkali menjadi teman berbincang berjam-jam saat aku pulang ke rumah orangtuaku. Ia menanyakan kapan aku sampai di rumah dan mengajak untuk bertemu setelah aku sampai di rumah orangtuaku.

30 Juni 2016

Kami bersepakat untuk bertemu di angkringan yang sering menjadi tempat nongkrong kami sejak lama, pukul setengah delapan malam. Udara di tempatku lahir ini memang lebih dingin ketimbang tempatku kuliah. Tapi entahlah, tak seperti biasanya, aku keluar hanya menggunakan celana pendek dan kemeja flanel yang sudah tak karuan wujudnya. Selalu seperti biasanya, ia sampai di tempat lebih dulu dibandingkan denganku. Seperti layaknya pertemuan dengan kawan lama lainnya, kami bersalaman dan saling menanyakan kabar masing-masing. Ia tak banyak berubah. Termasuk raut wajahnya yang tampak penuh kelelahan. Aku memaklumi wajah lelah itu. Terlebih lagi ia bekerja di salah satu pabrik garmen yang beroperasi di kota tempatku lahir ini. Salah satu pabrik yang cukup gila dalam memaksa buruh-buruhnya untuk lembur guna memenuhi target produksi yang seringkali tak masuk akal. Tak masuk akal buatku.

Seperti halnya perjumpaan kami beberapa bulan yang lalu, ia memulai perbincangan dengan keluhannya atas beban kerjanya yang kian hari kian menyebalkan, pun dengan rekan kerjanya yang tak kalah menyebalkan. Dari atasan yang hobi mengobral umpatan hingga rekan kerjanya sesama buruh yang selalu mengatakan bahwa ia sudah malas bekerja. Aku hanya menimpali dengan candaan-candaan tak jelas. Karena harus diakui aku sedang tak begitu tertarik berbincang soalan hal tersebut dengan kawanku itu. Karena aku bukan bagian dari mereka. Aku tak tahu apa yang mereka rasakan dan aku tak memiliki kesadaraan yang sama dengan mereka.

Hal lain yang ia keluh-ulang-kan adalah bahwa serikat pekerja di tempatnya bekerja hanyalah sebuah organisasi-yang-penting-ada. Ia bercerita bagaimana serikat pekerja tidak mampu membawa pesan dari para buruh namun justru sebaliknya, serikat pekerja digunakan pabrik untuk memaksa para buruh untuk bekerja lebih giat lagi. Pantas saja tak pernah ada yang protes ketika banyak dari rekan mereka yang dipaksa lembur lebih dari delapan jam dalam satu minggu, balasku singkat. Ia hanya tertawa, lantas meminum teh hangat pesanannya.

Setelahnya kami saling diam. Aku memilih meminum jahe santen pesananku. Salah satu minuman favoritku di angkringan ini. Selain kopi, tentu saja.

Setelah satu atau dua menit, ia kembali bercerita perihal seorang rekan kerjanya yang telah menikah namun tetap bermain seru dengan perempuan lainnya. Aku mendengarkan dengan seksama. Aku tertarik dengan bajingan-bajingan seperti rekan kerja kawanku tersebut. Aku mengenal satu seperti itu. Tapi tampaknya kenalanku jauh lebih baik dalam mengelola kebiasaannya tersebut dibanding rekan kerja kawanku. Ia bercerita bagaimana rekan kerjanya tersebut memerawani seorang gadis jauh yang baru bekerja di tempat kerjanya di saat istrinya sedang mengandung anak keduanya. Bajingan betul, responku singkat setelah kawanku tersebut berhenti bercerita. Aku sendiri tak pernah sepakat dengan pola perselingkuhan seperti itu. Bagiku mereka yang melakukan perselingkuhan adalah individu-individu yang tak memiliki loyalitas. Tak memiliki sikap. Memang benar itu adalah kebebasannya tapi aku juga membenci kebebasan yang tidak bertanggungjawab. Kawanku mengangguk seakan mengiyakan setelah kukatakan pandanganku soal perselingkuhan.

Kemudian ia berkata pelan, tampaknya pernikahan itu menyeramkan. Ia mengatakan hal tersebut sembari menggelengkan kepalanya. Terus menurutmu pernikahan itu gimana? Aku pribadi cukup ngeri dengan pernikahan, tanya kawanku kemudian.

Aku diam beberapa saat.

Bagiku pernikahan adalah satu menjadi dua. Aku tak pernah sepakat dengan pandangan yang mengatakan bahwa pernikahan adalah menyatukan dua insan dalam suatu ikatan perjanjian. Itu terlalu naif. Aku pernah suatu waktu mendapat cerita dari seorang kenalan yang telah menikah, bahwa pernikahan dapat mengubah banyak hal dalam dirimu. Bangun tidur dengan seseorang di sampingmu adalah hal yang mengerikan jika terus dipikirkan. Ia, pasanganmu, akan selalu di sana. Bayangan paling mengerikan adalah saat ia yang tidur di sampingmu tak pernah lagi membuka matanya. Aku selalu ngeri jika memikirkan hal tersebut, ujar kenalanku mengakhiri cerita singkatnya. Aku tak paham dan memilih diam.

Yang kupikirkan jika aku menikah kelak adalah aku harus bisa menjadi individu yang dapat melakukan banyak hal. Serba bisa. Dari memberi cinta yang diharuskan tak pernah habis kepada istriku dan memenuhi kebutuhan hidup hariannya hingga menjadi alat pemuas kebutuhan biologisnya. Begitupun seharusnya istriku lakukan. Tapi apakah itu mungkin? Satu individu menjadi alat multifungsi untuk individu lainnya. Aku meragukan hal tersebut.

Banyak kasus perceraian terjadi yang kupikir karena kita, manusia, dengan segala keterbatasannya selalu merasa harus terpenuhi seluruh kebutuhan hidupnya. Padahal kita tahu dan mungkin paham betul keterbatasan yang kita miliki. Jika kuingat-ingat tentang kisahku dengan mantan kekasihku sewaktu usiaku masih belasan, aku pun demikian. Aku selalu berharap kekasihku selalu meluangkan waktunya untukku. Memberikan banyak hal untukku. Tidak melakukan hal-hal yang kubenci. Begitupun dengan kekasihku, ia melakukan hal yang sama dengan apa yang kulakukan. Singkatnya, aku dan kekasihku khususnya terlalu takut untuk melihat sisi paling menyedihkan dari manusia, sisi dengan penuh keterbatasan. Kita mengharapkan seseorang yang sempurna.

Tentu saja aku tak memberikan jawaban sepanjang itu kepada kawanku. Aku hanya menjawab, pernikahan modern itu membutuhkan manusia sempurna dan memikirkan hal itu sungguh melelahkan sekaligus membuatku berpikir untuk menghindari pernikahan beserta hal-hal yang berkaitan dengannya.

Ia tertawa dan berkata, enakan masturbasi, ya?

Aku ikut tertawa dan mengumpat pelan, asu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s