Sebuah Perbincangan: Berpuasa (Bagian I)

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini aku memilih untuk tidak berpuasa. Bagiku, setidaknya yang kuperoleh dari apa yang diajarkan orangtuaku, puasa adalah suatu prosesi untuk menjadi manusia yang lebih mengerti dirinya sendiri; seberapa lemahkah ia, seberapa patuhnya ia, dan seberapa ia mengenal Tuhannya. Semenjak aku kehilangan keyakinan bahwa puasa akan membuat manusia menjadi lebih baik, aku berhenti berpuasa.

***

Ada satu momen pada bulan Ramadan yang masih begitu kuingat benar hingga hari ini, yaitu sekitar tiga belas tahun yang lalu. Tepatnya minggu terakhir bulan Ramadan tahun itu. Seperti kebanyakan keluarga muslim di Indonesia, orangtuaku selalu merasa perlu untuk membelikanku dan kedua kakak perempuanku baju baru, sekalipun harus diakui baju-baju lebaran sebelumnya selalu terlihat masih baru hingga lebaran berikutnya. Pasalnya sederhana: aku tak pernah memakainya jika aku tidak diajak untuk pergi acara-acara tertentu. Aku selalu merasa tidak perlu memakai baju bagusku untuk bermain layang-layang atau sekadar mencari ikan di sungai, dan kebiasaan itu kubawa hingga hari ini.

Pada saat itu, ibuku mengajakku ke pasar dekat rumah untuk membeli baju baru. Kami berangkat dari rumah sekitar pukul sembilan pagi. Kami berdua berjalan kaki beriringan. Ibuku sesekali menggandeng tanganku jika aku berjalan terlalu cepat. Dan kadang mengomeliku karena tingkahku tersebut. Seperti kebanyakan bocah seusiaku, aku baru berhenti bertingkah setelah lenganku dicubit pelan oleh ibuku. Aku meringis dan kemudian berhenti bertingkah seperti itu. Aku tak begitu ingat pukul berapa aku dan ibuku sampai di pasar. Yang kuingat hanyalah bagaimana ibuku langsung mengajakku ke toko baju anak-anak langganan ibuku. Aku diminta memilih, dua buah baju dan satu buah celana panjang. Aku memilih kaos berwarna merah dengan tulisan angka empat di depannya dan kemeja cokelat dengan gambar pesawat tempur di belakangnya. Tapi aku tak memilih celana sama sekali. Ibuku yang memilihkannya untukku. Aku senang sekaligus kesal. Senang karena mendapatkan kaos merah dan pesawat tempur di kemejaku dan kesal karena seorang kenalan ibuku mencubit pipiku, karena pipiku seperti bakpao saat tahun-tahun tersebut. Aku tak pernah menyukai tindakan seperti itu. Selain membelikanku baju dan celana baru, kami, tepatnya ibuku, juga membelikan satu buah baju koko untuk ayahku. Ibuku? Ia tak membeli apapun. Karena ia telah memperoleh baju gamis gratis dari seorang penjual makanan ringan langganan ibuku.

Setelah selesai urusan baju baru, ibuku mengajakku untuk membeli sayur dan beberapa bahan untuk membuat sajian buka puasa sore nanti. Lele dan sayur buncis dan blewah dan tahu. Semuanya makanan favoritku. Aku kadang merindukan ibuku jika aku membeli makan siang dengan lauk lele atau tahu plus sayur buncis di warung makan dekat kosku. Sekalipun harus diakui aku hampir tak mengingat bagaimana rasa sayur buncis masakan ibuku. Seperti kebanyakan ibu-ibu yang sering ke pasar, ibuku memiliki cukup banyak kenalan di pasar ini. Setelah kami selesai berbelanja, kami tak langsung pulang karena seperti yang kau tahu, ibuku bertemu dengan kenalannya dan perbincangan hangat dimulai. Aku hanya sesekali menimpali jika lawan bicara ibuku bertanya padaku. Baiknya adalah perbincangan yang dilakukan ibuku tak pernah lebih dari sepuluh menit dan buruknya adalah aku haus.

Setelah berpamitan, kami berdua keluar dari pasar dan menuju pangkalan becak di depan pasar. Aku masih ingat benar ketika mataku tak bisa lepas dari lapak bakso di depan pasar. Tampaknya ibuku mengetahui hal tersebut dan ia berhenti. Ia berkata pelan, kamu lapar? Aku menggeleng. Tapi sepertinya ibuku jauh lebih mengerti kondisiku daripada diriku sendiri, ia membawaku ke lapak tersebut dan berkata padaku, dimakan di sini saja, ya? Bakso satu, mas. Pesannya kepada abang tukang bakso. Aku dibawanya ke tempat duduk tepat di depan gerobak bakso. Aku berkali-kali menelan ludahku. Jujur saja aku ketakutan. Terlebih aku mengingat perkataan guru mengajiku saat awal-awal bulan Ramadan, yang tidak berpuasa nanti masuk neraka. Aku memalingkan wajahku ke arah ibuku, berharap ibuku akan membatalkan pesanannya atau setidaknya meminta tukang baksonya untuk membungkus bakso pesananku tersebut. Ibuku tak melakukan yang kuharapkan, ia hanya berkata, gak masalah membatalkan puasa, kan kamu masih kecil. Aku hanya diam. Sejurus kemudian bakso pesananku datang, aku kembali memandang ibuku. Ia hanya tersenyum dan berkata, dimakan to, mumpung masih panas. Aku menuruti perintah ibuku dan memakan baksoku. Bakso nikmat yang dulu pernah kurasakan tidak lagi terasa. Aku menangis.

***

Kawanku hanya diam ketika mendengar ceritaku tersebut. Ia hanya tersenyum sesaat aku selesai. Aku menceritakan cerita tersebut ketika ia bertanya pengalamanku saat bulan ramadan yang paling membekas dalam ingatanku.

Kawanku tersebut adalah seorang teman SD-ku yang pindah ke Jakarta sewaktu kami naik ke kelas tiga. Kami kembali bersua melalui media sosial facebook sekitar tiga tahun yang lalu. Hari Minggu yang lalu ia mengajakku untuk berjumpa untuk pertama kalinya setelah sekian tahun tak bertemu. Sekaligus untuk berbuka puasa bersama.

“Kurusan lo,” begitu sapanya saat pertama kali kami bertemu.

Aku hanya terdiam. Aku terpesona dengan perempuan ini. Ia yang kuingat adalah seorang gadis kecil usil dan tak akan segan-segan memukulmu jika ia tak menyukaimu. Juga akan mencatat namamu dan melaporkanmu ke ibu guru jika kau ribut di kelas atau meledeknya. Singkatnya, aku tak pernah menyukainya. Ia begitu sering membawa masalah dalam hidupku yang tenang kala itu. Kini, harus kuakui, ia begitu cantik. Begitu berbeda dengan apa yang kubayangkan.

“Apaan?” Tanyanya sembari menjitak kepalaku. Persis apa yang dilakukannya kepadaku bertahun yang lalu.

Kami berbincang banyak hal, mulai dari membicarakan teman-teman SD kami dahulu hingga ‘status’ kami hari ini. Perbincangan malam itu diakhiri dengan pertanyaan darinya, jadi apa yang kamu dapetin dari kisahmu tadi?

Aku belajar banyak dari kisah itu. Aku belajar bahwa aku adalah individu yang lemah. Bahwa aku memakan bakso tersebut bukan karena setan yang menggodaku itu semua murni kesalahanku yang tidak mampu menjaga mataku dan nafsuku. Itu juga bukan salah ibuku yang membelikanku bakso tersebut. Itu murni kesalahanku yang tak mampu menolak dan justru menangis setelah gigitan pertamaku pada bakso itu. Jadi, bagiku ketika kita gagal, dalam hal apapun, yang pertama kali harus dikoreksi adalah dirimu sendiri. Dan berhenti mencari kambing hitam atas kegagalanmu. Aku jadi tahu, kalo aku begitu lemah.

Ia tersenyum dan menepuk pundakku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s