Mengutuki Bangkai

Entah sudah berapa lama aku berada di tempat sempit ini. Sendirian, mengamati manusia-manusia kusut dan berpeluh di gerbong busuk ini. Keriuhan yang biasa saja sebenarnya. Tapi menyedihkan, semenyedihkan pintu-pintu otomatis mall-mall di Jakarta. Bicara mall, aku tak membenci tempat itu barang sedikitpun. Setidaknya hingga saat ini. Aku semacam memiliki fetish dengan mall dan manusia-manusia yang berputar-putar di dalamnya, baik yang melacurkan diri di tempat dingin itu hingga mereka yang sengaja mencari-cari teman tidur untuk berkeringat. Aku sendiri lebih sering menjadi komentator paling sinis dari gaya berpakaian bahkan hingga cara makan pun tak akan terlewat untuk  kukomentari. Sungguh demi apapun di dunia ini aku bangga dengan pencapaian tiga tahun mengakrabi mall-mall di kota ini. Sungguh bangga.

Suara-suara hantu di kepalaku raib seketika kala suara seorang perempuan terdengar menyebutkan jika gerbong busuk dan sempit ini telah sampai di tujuanku. Seperti biasanya, manusia-manusia yang entah berpikiran apa malah memilih adu dorong dan berteriak kesetanan, “yang keluar duluan dong” atau “jangan dorong-dorong ngapa..”, daripada keluar satu persatu dengan tertib dan saling senyum. Paling tidak berikan aku sesuatu hal baru untuk kukomentari. Seperti kataku, manusia-manusia ini dengan segala macam keriuhannya adalah entitas paling menyedihkan di kota brengsek ini. Kota yang telah merampas banyak hal sekaligus memberi banyak hal. Kota yang sama menyedihkan. Kota yang menjadi pusat perekonomian dan pemerintahan negeri ini merupakan tempat paling majemuk sekaligus menjemukan. Melelahkan sekaligus kelelahan. Menyedihkan sekaligus penuh kesedihan. Aku dan mungkin manusia-manusia di dalamnya pun demikian. Kadang aku bisa memaklumi segala kesemrawutannya tapi seringnya aku akan mengumpat dengan dua-puluh-sembilan umpatan dalam satu baris dengan kecepatan serupa metro mini di perempatan-perempatan jalan saat lampu merah. Biasa saja.

***

Sekarang pukul 23:41. Begitu yang tertera di ponselku yang harganya setara tiga atau tiga setengah kali dengan gaji buruh garmen di kota asalku. Aku tak sebegitu peduli sebenarnya dengan waktu, toh besok libur. Lusa juga. Harus diakui pula bahwa aku tak menyiapkan rencana apapun untuk jatah liburku, seperti aku tak pernah berencana akan menetap di kota ini. Seorang kawan pernah berujar, “tengah malam hingga subuh adalah jam-jam terbaik kota ini”.  Aku tak sedikitpun memercayainya. Apalagi setelah ia meniduri kekasihku. Sungguh bajingan betul lelaki itu. Tapi kali ini aku harus sedikit memercayainya, memang kota ini terlihat lebih tangguh saat-saat seperti ini. Ia dengan senang hati berbagi peluh, makian, dan polusi di setiap ujung parkiran pinggir jalan dengan mereka yang kelelahan dan mungkin juga telah kehilangan harapan. Mungkin jika ia tidak malu-malu seperti bulan malam ini, ia akan berbisik ke setiap manusia yang bersedih atau bersuka cita di kota ini, bahwa ia senang ia tak sendirian, juga tak kesepian, dan yang paling penting ia akan memberimu ucapan selamat malam yang bisa jadi luput dikirimkan oleh kekasih gelapmu.

Kota ini terlalu baik. Aku ingin selesai bersamanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s