Setelah 2015 Selesai

Selamat tahun baru! Semoga hal baik menyertaimu.

Tanggal 31 Desember siang, seorang kawan berkunjung ke rumah, wajahnya penuh keceriaan. Ia bercerita begitu bahagianya ia sekarang. Aku hanya mendengarkan setiap ceritanya dan sesekali memberi respon. Kadang tertawa dan mengejeknya. Aku tak mau banyak membahas hal-hal yang telah ia lewati setahun ini. Aku tahu dan akan selalu tahu, 2015 adalah tahun terberat untuknya. Aku turut bahagia kala ia bercerita tentang hal-hal yang sesungguhnya sudah kuketahui dengan penuh keceriaan.

Semoga kamu selalu bahagia.

***

Tanggal 31 Desember malam, seorang kawan menelponku. Mengucapkan selamat tahun baru, meski ia tahu di Indonesia masih jam sepuluh malam. Ia hanya tertawa kala aku mengingatkannya. “Aku bahagia,” ujarnya. Aku tahu dan akan selalu tahu, 2015 adalah tahun terbaik untuknya. Ia mendapatkan pekerjaan di Korea Selatan, negara yang aku tak pernah berharap berkunjung. Namun, karena ada ia di sana aku ingin mengunjunginya, di tahun ini. Aku selalu mengingat, nyaris setahun yang lalu, bagaimana ia penuh berurai air mata menceritakan bagaimana kondisi finansial keluarganya, satu hal yang membuatnya memilih untuk tidak berkuliah. Kini ia telah memilih takdirnya sendiri, mengutuki kesengsaraan, dan meludahi ketidakberdayaan. Aku turut bahagia. Oh iya, tanggal 28 Desember aku bertemu adikmu. Maaf lupa mengabarkan, mungkin adikmu sudah mengabarkannya padamu.

Semoga kamu selalu bahagia.

***

2015,

Tahun baik. Tahun yang memberiku banyak hal, termasuk goresan-goresan lucu akibat kecerobohanku: jatuh cinta. Aku tak menyeselinya. Hanya senang mengutuki kebodohanku sendiri. Bukan, jatuh cinta bukan hal yang buruk. Hanya saja aku sedang tak ingin jatuh cinta. Itu saja.

Tahun baik. Tahun yang mengajarkanku untuk merelakan dan mengikhlaskan apa yang telah lewat. Tahun ini, aku memberanikan diri dan menata hati sebaik-baiknya. Untuk mengunjunginya. Berbincang meskipun aku tahu tak akan berbalas. Malam sebelum kunjunganku, aku berjanji tak akan menumpahkan sedikitpun air mata. Tapi, seperti yang kau tahu. Aku terkutuk, aku menangis sesenggukan di hadapannya, di hadapan nisan tempat ia beristirahat entah akan sampai kapan. Tapi aku lega. Kelegaanku membawaku pulang. Aku tersenyum. Aku ingat betul bagaimana aku tersenyum. Aku bahagia untuknya, di mana pun atau tak di mana pun ia sekarang.

Tahun baik. Tahun yang menghantam mukaku dengan teramat keras. Aku nyaris menggantung badanku setelahnya. Aku lelah. Tapi seperti yang kau tahu, aku tak seberani itu. Aku ceritakan pada kawanku, tentang bagaimana takutnya aku saat akan menggantung tubuhku. Ia tertawa, aku pun. Tapi ia baik, ia tak pernah membahasnya lagi. Kadang aku malu, saat terperosok jurang sedalam itu aku masih saja punya rasa takut. Dasar pengecut. Rutukku suatu waktu. Aku tertawa setelahnya. Aku tak ingin coba-coba lagi.

Tahun baik. Tahun yang biasa saja sekaligus luar biasa. Aku bertemu banyak orang-orang baru, sekadar berkenalan dan bertukar nomor ponsel. Temanku di Line kini banyak sekali. Nyaris enam-ratus. Sekitar dua-puluh persen yang aku kenal. Sisanya, entah datang darimana aku juga tak ingat. Grup di WhatsApp-ku pun tak kalah hingar bingar. Nyaris setiap bulan ada grup baru. Dan entah setan mana yang memasukkanku ke dalamnya. Tapi aku tak pernah berniat untuk meninggalkan grup-grup jahanam itu. Biar saja. Biar aku ada bahan untuk mengutuk dan mengumpat.

Tahun baik. Tahun yang mengambil banyak hal dariku. Yang pertama, jelas adalah ponselku yang harganya cukup mahal hilang entah ke mana. Ebook reader hadiah dari seorang teman diskusiku juga raib. Sialnya, aku juga kehilangan harapan-harapan baik yang kutulis dan kurekam apik di benakku. Aku ingat seluruhnya. Aku kehilangan nyaris semuanya. Kecuali hidupku.

Amor fati,

***

2016,

Baru dua hari. Ya, biasa saja sebenarnya. Mungkin akan sama dengan tahun lalu. Terlebih lagi, aku tak lagi menyimpan harapan apapun. Aku kapok menyimpan banyak harapan.

Tahun yang semoga baik. Tahun yang boleh dan berhak mengambil apapun yang kupunya hari ini. Terserah. Apapun. Karena apapun yang kau ambil pada akhirnya akan kudapatkan lagi. Tahun yang juga boleh dan berhak mengutukiku, membantingku, dan membunuhku. Aku juga tak lagi peduli apapun yang akan kau perbuat karena pada akhirnya, bagaimanapun kondisiku, sedalam apapun aku terperosok, atau setebal apapun tembok yang kau buat untuk mengurungku. Aku akan selalu dan selalu menemukan cara untuk sekadar mengutukimu balik atau menertawaimu. Jauh lebih keras.

Jadi, mau apalagi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s