Perjumpaan Terakhir

“If I stayed here, something inside me would be lost forever—something I couldn’t afford to lose. It was like a vague dream, a burning, unfulfilled desire. The kind of dream people have only when they’re seventeen.”

―Haruki Murakami, South of the Border, West of the Sun

Butuh waktu untuk menuliskan ini. Perpisahan adalah sebuah keniscayaan dari sebuah perjumpaan. Siap atau tidak, perpisahan akan menemuimu. Kapan pun ia mau. Aku hanya sedikit mengerti tentang perpisahan. Karena aku baru saja mengalaminya.

***

Rabu, 21 Desember 2016.

Aku nyaris lupa mesti menemuimu hari itu. Ingatanku masih buruk seperti dulu. Sesuatu yang teramat kau benci. Aku pernah lupa kapan ulangtahunmu, dan yang menurutmu paling parah adalah aku melupakan kapan kita sepakat untuk bersama. Kemarahanmu nyaris tidak bisa dibendung dengan apa pun ketika hal ini terjadi. Satu yang selalu menjadi konklusi atas kecerobohanku ini adalah aku tidak serius dalam hubungan ini. Tapi kau tak pernah serius soalan ini. Selama aku mengganti kecerobahanku itu dengan roti bolu isi cokelat atau pizza atau tacos saat kita berjumpa kau akan baik-baik saja. Pun hubungan kita.

“Aku gak bisa beneran marah, sih.” katamu, di sela-sela waktu menunggu tacos buatan kafe favorit kita tiba, dulu.

Aku selalu percaya padamu. Sepanjang ingatanku, kau hanya sekali benar-benar marah padaku, ketika aku lupa untuk membangunkanmu di hari pentingmu: ujian akhir semester perdanamu sebagai seorang mahasiswa. Aku memang ceroboh.

Ketika aku datang, kau sudah menempati bangku favorit kita. Aku terlambat. Ini adalah hal lain yang juga kau benci dariku. Sekalipun aku hanya kadang-kadang saja terlambat. Tampaknya hari itu kau tak akan mempermasalahkan keterlambatanku. Kau hanya tersenyum sesaat setelah aku menyapamu.

“Aku sehat dan aku bahagia!!” ujarmu setengah menjerit.

Aku bahkan belum berniat menanyakan hal itu. Ia tersenyum dan memintaku untuk duduk. Sore itu, ia terlihat lebih cantik daripada foto terakhirnya yang ia poskan di Facebook sebulan yang lalu, sebelum ia menghapusku dari pertemanannya di sana. Dan apa yang ia kenakan sore itu adalah baju pemberianku dulu. Aku bahagia dan tersenyum ketika menyadarinya. Aku tak perlu merasa menyesal masih menyimpan sedikit harapan dan masih memberinya ruang yang cukup luas di dalam hidupku.

“Udah kupesenin, ya!” ujarmu sambil tersenyum “aku yang traktir.” lanjutmu.

Senyuman yang masih sama seperti dulu. Aku ikut tersenyum.

Sembari menunggu pesanan datang, mau tak mau harus berbincang, karena tidak mungkin hanya saling memandangi tangan atau saling membuang muka. Jadi, banyak hal yang dibicarakan, dari perkara hobi hingga perkara serius: siapa pasanganku dan siapa pasangannya saat ini. Untuk yang terakhir ini, masing-masing tak ada yang mau menjawab. Aku? Sudah jelas tak memiliki seseorang yang spesial untuk saat ini. Dia? Aku tak yakin ia masih sendiri. Setidaknya begitu pikirku saat itu.

Sekitar 25 menit semenjak aku duduk, pesanan kami datang. Kamu menikmati makananmu dan aku menikmati makanan yang kamu pesankan. Tak ada perbincangan apapun. Masing-masing sibuk dengan makanan yang harus segera dinikmati.

“Nu…” panggilmu pelan, memecah kebisuan.

Aku masih menyeruput minumanku saat aku mencoba merespon panggilanmu.

“Maaf ya, saya dulu ngilang gitu aja…” ujarmu sedikit tercekat, “aku bingung banget waktu itu” lanjutmu.

Aku tak ingin memberi jawaban apapun, yang kulakukan hanya membuat lingkaran dari sisa saos sambal yang ada di piringku. Aku ragu untuk sekadar memberi jawaban. Rasanya seperti ketika luka goresan akibat kecerobohanmu ditetesi air garam. Aku hanya menunduk setelahnya.

“Aku pengen nyelesain semua urusan kita yang belum kelar, sebelum aku nikah,” … “NU!”

Aku tersentak. Kemudian aku berdiri dan memilih untuk pergi. Sebelum aku benar-benar pergi, aku mengatakan apa yang selama ini ingin kusampaikan, “Tha, ini yang terakhir. Aku pikir semua udah selesai. Gak ada yang perlu dibahas lagi. Paling gak kita udah bisa ngasih damai ke diri kita masing-masing. Jadi, gak perlu minta maaf.”

Aku berjalan pelan meninggalkan kafe yang pernah memberiku bahagia dengan senyum lega, yang entah darimana itu berasal.

***

Mari bersiap untuk patah hati, lagi.

Advertisements

Hal-hal Yang Tak Sempat Dibicarakan

Sudah lebih dari sepekan aku libur. Seperti liburanku yang lain—setelah aku pindah ke kampusku yang sekarang. Aku tak menikmatinya. Sama sekali. Di saat rekan-rekanku memamerkan foto-foto liburan mereka ke wahana wisata atau sejenisnya, aku justru memilih untuk tak melakukan apa-apa. Tidak benar-benar tak melakukan apa-apa, memang. Karena aku masih sempat untuk tidur lebih dari dua-belas jam sehari. Makan. Atau sekadar membantu ibuku mengupas bawang putih atau wortel di siang hari. Aktivitasku tak pernah jauh dari kasur. Dan akhirnya aku berniat untuk merayakan masih-hidupnya aku dengan mengunjungi rumah beberapa kawan. Berdiskusi tentang hal-hal yang kulewatkan selama aku di perantauan. Atau sekadar menikmati kopi di angkringan favorit kebanyakan pemuda garda samping sepertiku.

***

Aku lupa kapan, tapi seingatku masih liburan.

Aku baru bangun tidur saat aku mendapati ada puluhan notifikasi di ponselku. Notifikasi atas pesan-pesan teks di aplikasi WhatsApp yang masuk dalam rentang sepuluh atau sebelas jam semenjak aku tertidur pulas. Beberapa dari grup-grup yang aku enggan untuk keluar dari grup-grup tersebut, mengingat itu demi kepentinganku di kampus. Tak ada pesan teks dari kawan baikku tapi ada dua atau tiga pesan belum terbaca dari seorang perempuan yang dulu sempat, dan masih, kuusahakan kebahagiaan untuknya.

“Oktober kamu ada libur gak?”

Ada apa ini. Aku bertanya-tanya sekian detik sebelum akhirnya kujawab, gak tau.

Ada apa? Lanjutku.

Ia tak kunjung membalas pesan teksku. Mungkin ia akan membalas pesan teksku satu atau dua jam yang akan datang, begitu pikirku. Aku melanjutkan berbaring di kasurku dan menatap langit-langit kamarku yang bercat putih.

Dua menit. Delapan menit. Dua belas menit berlalu.

Entahlah. Aku tak pandai menghitung waktu dengan begitu presisi. Tak ada pesan teks balasan dari perempuan tersebut. Aku sebenarnya tak begitu berharap mendapatkan teks balasan darinya. Hanya saja, aku begitu penasaran dengan kemunculannya yang serba tiba-tiba sebulan terakhir ini. Pertama, saat pekan terakhir bulan ramadan, aku lupa tepatnya kapan, ia mengirimiku pesan teks menanyakan kabar dan berbincang sangat lama―hanya jika satu jam non stop itu dianggap lama. Kemudian, hari ini yang terakhir, ia menanyakan kekosongan jadwalku di bulan Oktober. Yang kutahu, ia berulang tahun di bulan Oktober. Tapi tak mungkin ia akan mengundangku ke acara ulangtahunnya, mengingat aku bukan lagi seseorang yang penting baginya. Terlebih lagi tahun ini merupakan tahun ketiga setelah kami berhenti berkomunikasi.

Jadi, aku simpulkan ia sedang tak ada kerjaan dan iseng melakukannya. Karena mengingat ia baru saja lulus kuliah.  Dasar pengangguran!

***

Orangtuaku, khususnya ibuku adalah orang yang tak begitu menyukai seorang pemalas sepertiku. Dulu sebelum aku kuliah di tempatku sekarang, ibuku akan marah jika aku tak melakukan apapun seperti yang kulakukan setiap kali liburan tiba, seperti saat ini. Mungkin itu semacam trade-off yang dilakukan ibuku. Ibuku memilih aku bermalas-malasan dan hidup seperti mayat ketimbang aku cabut dari tempat kuliahku saat ini. Menyenangkan. Tapi aku belum mengonfirmasi hal ini kepada ibuku. Selain karena tak sebegitu penting bagiku, juga karena aku menikmatinya.

Masokis, begitu kata seorang kawanku saat kukatakan aku tak sebegitu senang berkuliah di tempat ini.

Liburan kali ini  dan liburan lain yang telah lewat, aku juga tak pernah diberikan beban pekerjaan apapun. Pekerjaanku di rumah hanya merapikan tempat tidurku, melipat selimut, mandi dua kali sehari, dan makan yang banyak. Jarang-jarang mendapatkan kemewahan seperti ini, mengingat dulu aku harus bangun pagi-pagi sekali untuk segera mandi dan bersiap berangkat ke terminal bus dekat rumah dengan berjalan kaki. Mungkin perjalanan kecil menuju terminal bus tersebut membutuhkan kira-kira lima belas menit. Aku harus sampai di terminal bus saat bus paling pagi arah Solo datang, sehingga aku tak perlu membolos satu sesi pelajaran di sekolah.

Masa-masa yang begitu panjang untuk diceritakan.

Aku terkadang melakukan hal-hal yang sama setelah bertahun aku lulus dari sekolahku. Bagiku, ketika aku melakukan hal tersebut, aku seperti sedang mengunjungi ingatan-ingatan yang berserakan di sepanjang jalan yang pernah kulewati selama dua setengah tahun lebih. Merasakan dingin yang sama dan mengingat kembali bagaimana di suatu subuh tiba-tiba aku menangis, menangis di sepanjang jalan karena satu hal yang hanya kuceritakan pada kawan dekatku. Jalan-jalan yang pernah kulewati tersebut mengajariku bagaimana tetap menolak berlutut sekalipun dunia memintamu untuk itu. Aku menerima hidup sebagaimana adanya saat momen-momen tersebut. Jalan-jalan yang mendewasakanku tak pernah berubah. Ia masih sama seperti dulu. Angkuh. Jika kau sempat, tanyakan padanya berapa kali aku menangis di atasnya.

I’d rather die on my feet than live on my knees.

***

“Nu, nih baca,” seru seorang kawanku saat aku mengunjungi kedai kopi miliknya.

Aku mengernyitkan dahiku. Tak yakin dengan apa yang kubaca, lalu kualihkan pandanganku ke arah kawanku tersebut.

Ia tertawa. Kemudian menerima ponselnya yang kuulurkan padanya.

Aku masih tak percaya dengan apa yang kubaca. Seorang teman lama. Tak begitu akrab dan aku tak pernah menceritakan apapun perihal hidupku padanya. Tapi lewat pesan teks yang ia kirimkan kepada kawanku tersebut, ia seakan tahu banyak hal soal hidupku. Ia mengatakan bahwa aku adalah seorang yang tak pandai bersyukur, tak bisa bekerja keras, manja, sinis, angkuh, dan beberapa hal lain yang sudah kulupa detilnya. Aku ingin tertawa tapi tak tahu bagian mana yang harus kutertawakan.

“Kenapa dia gitu, ya?” ujar kawanku sembari mengulurkan kopi pesananku, “Setahuku kamu gak kaya gitu deh. Ngobrol yuk, di belakang aja tapi” lanjut kawanku.

Aku mengekor kawanku menuju tempat belakang yang tampaknya menjadi tempat favoritnya. Dan aku harus senang karena masih dianggap sebagai seseorang yang penting baginya. Paling tidak aku tak kehilangan banyak kawan di kota ini.

Jika kuperhatikan baik-baik kawanku ini telah banyak berubah. Ia lebih cantik dibandingkan ia dua tahun yang lalu. Kini ia pandai merias diri dan semakin stylish. Gincu di bibirnya lah yang membuat semuanya menjadi sebegini menyenangkan. Terima kasih globalisasi dan internet!

Aku memujinya habis-habisan setelah kami duduk di sofa di tempat belakang yang ia maksud. Aku hanya berharap aku dapat kopi gratis hari ini atau hal menyenangkan lainnya. Aku tak akan menolak jika itu terjadi.

“Gak usah dipikirin chat yang tadi, aku gak percaya kok.” Ujar kawanku memecah keheningan sesaat setelah puja-pujiku untuknya habis.

Aku terkekeh, aku gak mikirin itu aku mikirin yang lain dan aku tahu kalau kamu gak percaya soal itu. Jelasku, berharap ia tak lagi membahas hal itu lagi.

Ia tersenyum. Ia begitu cantik. Aku tak bohong.

Que Sera, Sera.

***

Ada hal yang perlu disyukuri dan terus dihidupi, dan ada hal lain yang sebaiknya memang hanya perlu ditengok sesekali.

Aku memang tak begitu bahagia di sini, tapi jika ketidak-bahagia-anku ini membuat orangtuaku kembali memiliki sinar harapan di kedua mata mereka―sesuatu hal yang tak lagi kulihat semenjak delapan tahun yang lalu―aku akan dengan senang hati menerimanya. Menerima segala ketidak-bahagia-anku ini dan mungkin akan menghidupinya sebaik-baiknya.

Perihal Pernikahan: Angkringan Pasar Sunggingan, 30 Juni 2016

28 Juni 2016

Sebuah pesan teks whatsapp masuk. Dari seseorang yang seringkali menjadi teman berbincang berjam-jam saat aku pulang ke rumah orangtuaku. Ia menanyakan kapan aku sampai di rumah dan mengajak untuk bertemu setelah aku sampai di rumah orangtuaku.

30 Juni 2016

Kami bersepakat untuk bertemu di angkringan yang sering menjadi tempat nongkrong kami sejak lama, pukul setengah delapan malam. Udara di tempatku lahir ini memang lebih dingin ketimbang tempatku kuliah. Tapi entahlah, tak seperti biasanya, aku keluar hanya menggunakan celana pendek dan kemeja flanel yang sudah tak karuan wujudnya. Selalu seperti biasanya, ia sampai di tempat lebih dulu dibandingkan denganku. Seperti layaknya pertemuan dengan kawan lama lainnya, kami bersalaman dan saling menanyakan kabar masing-masing. Ia tak banyak berubah. Termasuk raut wajahnya yang tampak penuh kelelahan. Aku memaklumi wajah lelah itu. Terlebih lagi ia bekerja di salah satu pabrik garmen yang beroperasi di kota tempatku lahir ini. Salah satu pabrik yang cukup gila dalam memaksa buruh-buruhnya untuk lembur guna memenuhi target produksi yang seringkali tak masuk akal. Tak masuk akal buatku.

Seperti halnya perjumpaan kami beberapa bulan yang lalu, ia memulai perbincangan dengan keluhannya atas beban kerjanya yang kian hari kian menyebalkan, pun dengan rekan kerjanya yang tak kalah menyebalkan. Dari atasan yang hobi mengobral umpatan hingga rekan kerjanya sesama buruh yang selalu mengatakan bahwa ia sudah malas bekerja. Aku hanya menimpali dengan candaan-candaan tak jelas. Karena harus diakui aku sedang tak begitu tertarik berbincang soalan hal tersebut dengan kawanku itu. Karena aku bukan bagian dari mereka. Aku tak tahu apa yang mereka rasakan dan aku tak memiliki kesadaraan yang sama dengan mereka.

Hal lain yang ia keluh-ulang-kan adalah bahwa serikat pekerja di tempatnya bekerja hanyalah sebuah organisasi-yang-penting-ada. Ia bercerita bagaimana serikat pekerja tidak mampu membawa pesan dari para buruh namun justru sebaliknya, serikat pekerja digunakan pabrik untuk memaksa para buruh untuk bekerja lebih giat lagi. Pantas saja tak pernah ada yang protes ketika banyak dari rekan mereka yang dipaksa lembur lebih dari delapan jam dalam satu minggu, balasku singkat. Ia hanya tertawa, lantas meminum teh hangat pesanannya.

Setelahnya kami saling diam. Aku memilih meminum jahe santen pesananku. Salah satu minuman favoritku di angkringan ini. Selain kopi, tentu saja.

Setelah satu atau dua menit, ia kembali bercerita perihal seorang rekan kerjanya yang telah menikah namun tetap bermain seru dengan perempuan lainnya. Aku mendengarkan dengan seksama. Aku tertarik dengan bajingan-bajingan seperti rekan kerja kawanku tersebut. Aku mengenal satu seperti itu. Tapi tampaknya kenalanku jauh lebih baik dalam mengelola kebiasaannya tersebut dibanding rekan kerja kawanku. Ia bercerita bagaimana rekan kerjanya tersebut memerawani seorang gadis jauh yang baru bekerja di tempat kerjanya di saat istrinya sedang mengandung anak keduanya. Bajingan betul, responku singkat setelah kawanku tersebut berhenti bercerita. Aku sendiri tak pernah sepakat dengan pola perselingkuhan seperti itu. Bagiku mereka yang melakukan perselingkuhan adalah individu-individu yang tak memiliki loyalitas. Tak memiliki sikap. Memang benar itu adalah kebebasannya tapi aku juga membenci kebebasan yang tidak bertanggungjawab. Kawanku mengangguk seakan mengiyakan setelah kukatakan pandanganku soal perselingkuhan.

Kemudian ia berkata pelan, tampaknya pernikahan itu menyeramkan. Ia mengatakan hal tersebut sembari menggelengkan kepalanya. Terus menurutmu pernikahan itu gimana? Aku pribadi cukup ngeri dengan pernikahan, tanya kawanku kemudian.

Aku diam beberapa saat.

Bagiku pernikahan adalah satu menjadi dua. Aku tak pernah sepakat dengan pandangan yang mengatakan bahwa pernikahan adalah menyatukan dua insan dalam suatu ikatan perjanjian. Itu terlalu naif. Aku pernah suatu waktu mendapat cerita dari seorang kenalan yang telah menikah, bahwa pernikahan dapat mengubah banyak hal dalam dirimu. Bangun tidur dengan seseorang di sampingmu adalah hal yang mengerikan jika terus dipikirkan. Ia, pasanganmu, akan selalu di sana. Bayangan paling mengerikan adalah saat ia yang tidur di sampingmu tak pernah lagi membuka matanya. Aku selalu ngeri jika memikirkan hal tersebut, ujar kenalanku mengakhiri cerita singkatnya. Aku tak paham dan memilih diam.

Yang kupikirkan jika aku menikah kelak adalah aku harus bisa menjadi individu yang dapat melakukan banyak hal. Serba bisa. Dari memberi cinta yang diharuskan tak pernah habis kepada istriku dan memenuhi kebutuhan hidup hariannya hingga menjadi alat pemuas kebutuhan biologisnya. Begitupun seharusnya istriku lakukan. Tapi apakah itu mungkin? Satu individu menjadi alat multifungsi untuk individu lainnya. Aku meragukan hal tersebut.

Banyak kasus perceraian terjadi yang kupikir karena kita, manusia, dengan segala keterbatasannya selalu merasa harus terpenuhi seluruh kebutuhan hidupnya. Padahal kita tahu dan mungkin paham betul keterbatasan yang kita miliki. Jika kuingat-ingat tentang kisahku dengan mantan kekasihku sewaktu usiaku masih belasan, aku pun demikian. Aku selalu berharap kekasihku selalu meluangkan waktunya untukku. Memberikan banyak hal untukku. Tidak melakukan hal-hal yang kubenci. Begitupun dengan kekasihku, ia melakukan hal yang sama dengan apa yang kulakukan. Singkatnya, aku dan kekasihku khususnya terlalu takut untuk melihat sisi paling menyedihkan dari manusia, sisi dengan penuh keterbatasan. Kita mengharapkan seseorang yang sempurna.

Tentu saja aku tak memberikan jawaban sepanjang itu kepada kawanku. Aku hanya menjawab, pernikahan modern itu membutuhkan manusia sempurna dan memikirkan hal itu sungguh melelahkan sekaligus membuatku berpikir untuk menghindari pernikahan beserta hal-hal yang berkaitan dengannya.

Ia tertawa dan berkata, enakan masturbasi, ya?

Aku ikut tertawa dan mengumpat pelan, asu.

Sebuah Perbincangan: Berpuasa (Bagian I)

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini aku memilih untuk tidak berpuasa. Bagiku, setidaknya yang kuperoleh dari apa yang diajarkan orangtuaku, puasa adalah suatu prosesi untuk menjadi manusia yang lebih mengerti dirinya sendiri; seberapa lemahkah ia, seberapa patuhnya ia, dan seberapa ia mengenal Tuhannya. Semenjak aku kehilangan keyakinan bahwa puasa akan membuat manusia menjadi lebih baik, aku berhenti berpuasa.

***

Ada satu momen pada bulan Ramadan yang masih begitu kuingat benar hingga hari ini, yaitu sekitar tiga belas tahun yang lalu. Tepatnya minggu terakhir bulan Ramadan tahun itu. Seperti kebanyakan keluarga muslim di Indonesia, orangtuaku selalu merasa perlu untuk membelikanku dan kedua kakak perempuanku baju baru, sekalipun harus diakui baju-baju lebaran sebelumnya selalu terlihat masih baru hingga lebaran berikutnya. Pasalnya sederhana: aku tak pernah memakainya jika aku tidak diajak untuk pergi acara-acara tertentu. Aku selalu merasa tidak perlu memakai baju bagusku untuk bermain layang-layang atau sekadar mencari ikan di sungai, dan kebiasaan itu kubawa hingga hari ini.

Pada saat itu, ibuku mengajakku ke pasar dekat rumah untuk membeli baju baru. Kami berangkat dari rumah sekitar pukul sembilan pagi. Kami berdua berjalan kaki beriringan. Ibuku sesekali menggandeng tanganku jika aku berjalan terlalu cepat. Dan kadang mengomeliku karena tingkahku tersebut. Seperti kebanyakan bocah seusiaku, aku baru berhenti bertingkah setelah lenganku dicubit pelan oleh ibuku. Aku meringis dan kemudian berhenti bertingkah seperti itu. Aku tak begitu ingat pukul berapa aku dan ibuku sampai di pasar. Yang kuingat hanyalah bagaimana ibuku langsung mengajakku ke toko baju anak-anak langganan ibuku. Aku diminta memilih, dua buah baju dan satu buah celana panjang. Aku memilih kaos berwarna merah dengan tulisan angka empat di depannya dan kemeja cokelat dengan gambar pesawat tempur di belakangnya. Tapi aku tak memilih celana sama sekali. Ibuku yang memilihkannya untukku. Aku senang sekaligus kesal. Senang karena mendapatkan kaos merah dan pesawat tempur di kemejaku dan kesal karena seorang kenalan ibuku mencubit pipiku, karena pipiku seperti bakpao saat tahun-tahun tersebut. Aku tak pernah menyukai tindakan seperti itu. Selain membelikanku baju dan celana baru, kami, tepatnya ibuku, juga membelikan satu buah baju koko untuk ayahku. Ibuku? Ia tak membeli apapun. Karena ia telah memperoleh baju gamis gratis dari seorang penjual makanan ringan langganan ibuku.

Setelah selesai urusan baju baru, ibuku mengajakku untuk membeli sayur dan beberapa bahan untuk membuat sajian buka puasa sore nanti. Lele dan sayur buncis dan blewah dan tahu. Semuanya makanan favoritku. Aku kadang merindukan ibuku jika aku membeli makan siang dengan lauk lele atau tahu plus sayur buncis di warung makan dekat kosku. Sekalipun harus diakui aku hampir tak mengingat bagaimana rasa sayur buncis masakan ibuku. Seperti kebanyakan ibu-ibu yang sering ke pasar, ibuku memiliki cukup banyak kenalan di pasar ini. Setelah kami selesai berbelanja, kami tak langsung pulang karena seperti yang kau tahu, ibuku bertemu dengan kenalannya dan perbincangan hangat dimulai. Aku hanya sesekali menimpali jika lawan bicara ibuku bertanya padaku. Baiknya adalah perbincangan yang dilakukan ibuku tak pernah lebih dari sepuluh menit dan buruknya adalah aku haus.

Setelah berpamitan, kami berdua keluar dari pasar dan menuju pangkalan becak di depan pasar. Aku masih ingat benar ketika mataku tak bisa lepas dari lapak bakso di depan pasar. Tampaknya ibuku mengetahui hal tersebut dan ia berhenti. Ia berkata pelan, kamu lapar? Aku menggeleng. Tapi sepertinya ibuku jauh lebih mengerti kondisiku daripada diriku sendiri, ia membawaku ke lapak tersebut dan berkata padaku, dimakan di sini saja, ya? Bakso satu, mas. Pesannya kepada abang tukang bakso. Aku dibawanya ke tempat duduk tepat di depan gerobak bakso. Aku berkali-kali menelan ludahku. Jujur saja aku ketakutan. Terlebih aku mengingat perkataan guru mengajiku saat awal-awal bulan Ramadan, yang tidak berpuasa nanti masuk neraka. Aku memalingkan wajahku ke arah ibuku, berharap ibuku akan membatalkan pesanannya atau setidaknya meminta tukang baksonya untuk membungkus bakso pesananku tersebut. Ibuku tak melakukan yang kuharapkan, ia hanya berkata, gak masalah membatalkan puasa, kan kamu masih kecil. Aku hanya diam. Sejurus kemudian bakso pesananku datang, aku kembali memandang ibuku. Ia hanya tersenyum dan berkata, dimakan to, mumpung masih panas. Aku menuruti perintah ibuku dan memakan baksoku. Bakso nikmat yang dulu pernah kurasakan tidak lagi terasa. Aku menangis.

***

Kawanku hanya diam ketika mendengar ceritaku tersebut. Ia hanya tersenyum sesaat aku selesai. Aku menceritakan cerita tersebut ketika ia bertanya pengalamanku saat bulan ramadan yang paling membekas dalam ingatanku.

Kawanku tersebut adalah seorang teman SD-ku yang pindah ke Jakarta sewaktu kami naik ke kelas tiga. Kami kembali bersua melalui media sosial facebook sekitar tiga tahun yang lalu. Hari Minggu yang lalu ia mengajakku untuk berjumpa untuk pertama kalinya setelah sekian tahun tak bertemu. Sekaligus untuk berbuka puasa bersama.

“Kurusan lo,” begitu sapanya saat pertama kali kami bertemu.

Aku hanya terdiam. Aku terpesona dengan perempuan ini. Ia yang kuingat adalah seorang gadis kecil usil dan tak akan segan-segan memukulmu jika ia tak menyukaimu. Juga akan mencatat namamu dan melaporkanmu ke ibu guru jika kau ribut di kelas atau meledeknya. Singkatnya, aku tak pernah menyukainya. Ia begitu sering membawa masalah dalam hidupku yang tenang kala itu. Kini, harus kuakui, ia begitu cantik. Begitu berbeda dengan apa yang kubayangkan.

“Apaan?” Tanyanya sembari menjitak kepalaku. Persis apa yang dilakukannya kepadaku bertahun yang lalu.

Kami berbincang banyak hal, mulai dari membicarakan teman-teman SD kami dahulu hingga ‘status’ kami hari ini. Perbincangan malam itu diakhiri dengan pertanyaan darinya, jadi apa yang kamu dapetin dari kisahmu tadi?

Aku belajar banyak dari kisah itu. Aku belajar bahwa aku adalah individu yang lemah. Bahwa aku memakan bakso tersebut bukan karena setan yang menggodaku itu semua murni kesalahanku yang tidak mampu menjaga mataku dan nafsuku. Itu juga bukan salah ibuku yang membelikanku bakso tersebut. Itu murni kesalahanku yang tak mampu menolak dan justru menangis setelah gigitan pertamaku pada bakso itu. Jadi, bagiku ketika kita gagal, dalam hal apapun, yang pertama kali harus dikoreksi adalah dirimu sendiri. Dan berhenti mencari kambing hitam atas kegagalanmu. Aku jadi tahu, kalo aku begitu lemah.

Ia tersenyum dan menepuk pundakku.